KESENJANGAN SOSIAL

MAKALAH KESENJANGAN SOSIAL DI MASYARAKAT


Disusun Oleh :
MAMAN TAUFIKURAHMAN
36414342


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
PTA
2015/ 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
          Indonesia memiliki jumlah penduduk yang tidak sedikit jumlahnya, pada tahun 2014 sebanyak 237 641 326 jiwa. Hal ini dikarenakan Indonesia terdiri atas pulau-pulau dan beragam suku dan budayanya. Jumlah penduduk yang banyak ini tentunya menimbulkan banyak masalah, antara lain kemiskinan, masalah pendidikan, dan lain-lain.
            Hal-hal simpel yang seperti itulah, yang memicu timbulnya kesenjangan sosial di dalam kehidupan masyarakat. Biasanya orang-orang yang berada di kalangan atas lah yang membuat jarak dengan sesama. Kesenjangan sosial di Indonesia sangatlah terlihat, apalagi antara rakyat dengan pejabatnya. Kesenjangan sosial memuncak saat pemerintahan Presiden Soeharto karena TNI yang menguasai pemerintahan. Keadaan rakyat kecil semakin tertindas dan tidak ada keadilan dalam hal ini. Padahal dalam pembukaan dan isi Undang-undang Dasar 1945 telah dikatakan bahwa kita harus berlaku adil terhadap seluruh rakyat Indonesia. Kesenjangan ini dipicu oleh adanya kemiskinan yang merajalela dan kurangnya lapangan kerja. Maka dari itu, pemerintah tidak boleh menyepelekan masalah yang kompleks seperti ini. Kinerja pemerintah yang cepat dan tepat sangat diperlukan. Dan dengan bantuan rakyat bersama-sama memberantas kemiskinan untuk mencapai kesejahteraan sosial. Kemiskinan ini juga menyebabkan banyak anak di bawah umur untuk mencari penghasilan atau mencari uang untuk membantu orang tuanya.

1.2  Identifikasi Masalah  
          Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:
1. Apa yang memicu perilaku manusia seperti itu sehingga timbul kesenjangan sosial?
2. Bagaimana mengatasi kesenjangan sosial di dalam masyarakat?

1.3 Perumusan Masalah
          Masalah yang akan dibahas pada karya tulis ini adalah:
            "Faktor apa saja yang dapat menimbulkan kesenjangan sosial dan bagaimana menanggulanginya?"













BAB II
PEMBAHASAN

A.   Data Penduduk Indonesia dan Data kemiskinan di Indosesia
1.      Jumlah Penduduk
Pada tahun 2014 Jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 237 641 326 jiwa, yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 118 320 256 jiwa (49,79 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 119 321 070 jiwa (50,21 persen).
Penyebaran penduduk menurut pulau-pulau besar adalah: pulau Sumatera yang luasnya 25,2 persen dari luas seluruh wilayah Indonesia dihuni oleh 21,3 persen penduduk, Jawa yang luasnya 6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Kalimantan yang luasnya 28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen penduduk, Sulawesi yang luasnya 9,9 persen dihuni oleh 7,3 persen penduduk, Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 persen penduduk, dan Papua yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk.
2.      Jenis Kelamin Penduduk
Penduduk laki-laki Indonesia sebanyak 119 630 913 jiwa dan perempuan sebanyak 118 010 413 jiwa. Seks Rasio adalah 101, berarti terdapat 101 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Seks Rasio menurut provinsi, yang terendah adalah 94 di Provinsi NTB dan tertinggi adalah 113 di Provinsi Papua. Seks Rasio nasional pada kelompok umur 0-4 sebesar 106, umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 93 sampai dengan 109, dan umur 65+ sebesar 81.
3.      Umur Penduduk

Median umur penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 27,2 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Indonesia termasuk kategori menengah (intermediate). Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun. 
Rasio ketergantungan penduduk Indonesia adalah 51,31. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 46,59 sementara di daerah perdesaan 56,30. Perkiraan rata-rata umur kawin pertama penduduk laki-laki sebesar 25,7 tahun dan perempuan 22,3 tahun

4.      Pendidikan
Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar (Pasal 6 UU No. 20 tahun 2003). Berdasarkan hasil SP2014, persentase penduduk 7-15 tahun yang belum/tidak sekolah sebesar 2,51 persen dan yang tidak sekolah lagi sebesar 6,04 persen.  Ukuran/indikator untuk melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terkait pendidikan antara lain pendidikan yang ditamatkan dan Angka Melek Huruf (AMH). Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk 5 tahun ke atas berpendidikan minimal tamat SMP/Sederajat sebesar 40,93 persen. Ini menunjukkan kualitas SDM menurut tingkat pendidikan formalnya relatif masih rendah. AMH penduduk berusia 15 tahun ke atas sebesar 92,37 persen yang berarti setiap 100 penduduk usia 15 tahun ke atas ada 92 orang yang melek huruf. Penduduk dikatakan melek huruf jika dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.

5.      Jumlah Persentase Kemiskinan
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), dan
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi, September 2014










Propinsi
Jumlah Penduduk Miskin (000)
Persentase Penduduk Miskin (%)
Garis Kemiskinan (Rp/kapita/Bulan)
Kota
Desa
Kota+Desa
Kota
Desa
Kota+Desa
Kota
Desa
Kota+Desa
Aceh
158.04
679.38
837.42
11.36
19.19
16.98
396939
369232
377049
Sumatera Utara
667.47
693.13
1360.60
9.81
9.89
9.85
349372
312493
330663
Sumatera Barat
108.53
246.21
354.74
5.41
7.84
6.89
390862
349824
365827
Riau
159.53
338.75
498.28
6.53
8.93
7.99
386606
374466
379223
Jambi
109.07
172.68
281.75
10.67
7.39
8.39
390931
302162
329181
Sumatera Selatan
370.86
714.94
1085.80
12.96
13.99
13.62
346238
285791
307488
Bengkulu
99.59
216.91
316.50
17.19
17.04
17.09
378881
346395
356554
Lampung
224.21
919.73
1143.93
10.68
15.46
14.21
350024
307818
318822
Kepulauan Bangka Belitung
20.27
46.96
67.23
3.04
6.84
4.97
458055
481226
469814
Kepulauan Riau
91.27
32.90
124.17
5.61
10.54
6.40
431127
399063
425967
DKI Jakarta
412.79
0.00
412.79
4.09
0.00
4.09
459560
0
459560
Jawa Barat
2554.06
1684.90
4238.96
8.32
10.88
9.18
294700
285076
291474
Jawa Tengah
1771.53
2790.29
4561.83
11.50
15.35
13.58
286014
277802
281570
DI Yogyakarta
324.43
208.15
532.59
13.36
16.88
14.55
333561
296429
321056
Jawa Timur
1531.89
3216.53
4748.42
8.30
15.92
12.28
293391
286798
289945
Banten
381.18
268.01
649.19
4.74
7.18
5.51
324902
296241
315819
Bali
109.20
86.76
195.95
4.35
5.39
4.76
316235
279140
301747
Nusa Tenggara Barat
385.31
431.31
816.62
19.17
15.52
17.05
315470
285205
297907
Nusa Tenggara Timur
105.70
886.18
991.88
10.68
21.78
19.60
340459
251040
268536
Kalimantan Barat
78.53
303.38
381.92
5.47
9.20
8.07
307789
294044
298212
Kalimantan Tengah
39.45
109.37
148.83
4.75
6.74
6.07
316683
338130
330869
Kalimantan Selatan
61.21
128.28
189.50
3.68
5.64
4.81
336782
313954
323594
Kalimantan Timur
98.48
154.20
252.68
3.98
10.06
6.31
459004
420427
444248
Sulawesi Utara
60.08
137.48
197.56
5.57
10.47
8.26
269212
264321
266528
Sulawesi Tengah
71.65
315.41
387.06
10.35
14.66
13.61
349978
321009
328063
Sulawesi Selatan
154.40
651.95
806.35
4.93
12.25
9.54
246416
219109
229222
Sulawesi Tenggara
45.79
268.30
314.09
6.62
15.17
12.77
254015
238745
243036
Gorontalo
23.88
171.22
195.10
6.24
23.21
17.41
250157
246290
247611
Sulawesi Barat
29.87
124.82
154.69
9.99
12.67
12.05
245959
246695
246524
Maluku
47.58
259.44
307.02
7.35
25.49
18.44
369738
355478
361022
Maluku Utara
11.17
73.62
84.79
3.58
8.85
7.41
339561
307374
316160
Papua Barat
14.06
211.40
225.46
5.52
35.01
26.26
440241
423701
428608
Papua
35.61
828.50
864.11
4.46
35.87
27.80
408419
340846
358204
Indonesia
10356.69
17371.09
27727.78
8.16
13.76
10.96
326853
296681
312328

B.      Data Pekerja di Bawah Umur
Jumlah Angkatan Kerja Mencapai 107,7 Juta Jiwa berdasarkan hasil SP 2014, jumlah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) adalah sebesar 169,0 juta jiwa, terdiri dari 84,3 juta orang laki-laki dan 84,7 juta orang perempuan. Dari jumlah tersebut, jumlah angkatan kerja, yakni penduduk 15 tahun ke atas yang aktif secara ekonomi yaitu mereka yang bekerja , mencari pekerjaan atau mempersiapkan usaha sebesar 107,7 juta jiwa, yang terdiri dari 68,2 juta orang laki-laki dan 39,5 juta orang perempuan. Dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, jumlah angkatan kerja yang tinggal di perkotaan sebesar 50,7 juta orang dan yang tinggal di perdesaan sebesar 57,0 juta orang. Dari jumlah angkatan kerja tersebut, jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 104,9 juta jiwa dan yang mencari kerja sebesar 2,8 juta jiwa. 
C.      Penyebab Kemiskinan
Penyebab kemiskinan sangat kompleks, sehingga perspektif dalam melihat berdasarkan persoalan real dalam masyarakat tersebut. Persoalan real dalam masyarakat biasanya karena adanya kecacatan individual dalam bentuk kondisi dari kelemahan biologis, psikologis, maupun kultural sehingga dapat menghalanginya untuk memperoleh peruntungan untuk dapat memajukan hidupnya. Kelompok yang masuk dalam golongan yang tidak beruntung, yaitu kemiskinan fisik yang lemah, kerentaan, keterisolasian dan ketidakberdayaan.
Pada umumnya di Negara Indonesia penyebab-penyebab kemiskinan adalah sebagai berikut:
• Kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia di Indonesia
Seperti kita ketahui lapangan pekerjaan yang terdapat di Indonesia tidak seimbang dengan jumlah penduduk yang ada dimana lapangan pekerjaan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Dengan demikian banyak penduduk di Indonesia yang tidak memperoleh penghasilan itu menyebabkan kemiskinan di Indonesia.
• Tidak meratanya pendapatan penduduk Indonesia
Pendapatan penduduk yang didapatkan dari hasil pekerjaan yang mereka lakukan relative tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan ada sebagian penduduk di Indonesia mempunyai pendapatan yang berlebih. Ini yang diusebut tidak meratanya pendapatan penduduk di Indonesia.
• Tingakat pendidikan masyarakat yang rendah
Banyak masyarakat Indonesia yang tidak memiliki pendidikan yang di butuhkan oleh perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja. Dan pada umumya untuk memperoleh pendapatan yang tinggi diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi pula atau minimal mempunyai memiliki ketrampilan yang memadai dehingga dapat memp[eroleh pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan dehari-hari sehingga kemakmuran penduduk dapat terlaksana dengan baik dan kemiskinan dpat di tanggulangi
·      Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.
Terlihat jelas faktor ini sangat urgen dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus didukung dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang bisa dipertanggungjawabkan dengan maksimal
·      Biaya kehidupan yang tinggi.
Melonjak tingginya biaya kehidupan di suatu daerah adalah sebagai akibat dari tidak adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga kerja ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan banyaknya pengangguran.
·      Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.
Hal ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.
·      Kurangnya perhatian dari pemerintah
Masalah kemiskinan bisa dibilang menjadi maslah Negara yang semakin berkembang setiap tahunnya dan pemerintah sampai sekarang belum mampu mengatasi masalah tersebut. Kureangnya perhatian pemerintah akan maslah ini mungkin menjadi salah satu penyebnya.

D.     Solusi Mengurangi Kemiskinan
1.      Pemerintah harus menyediakan lebih banyak lagi lapangan pekerjaan, agar dapat membantu masyarakat dalam memecahkan masalah kehidupan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anggota keluarganya.
2.      Jangan menjadi pemalas! Selain pemerintah, masyarakat juga harus ikut andil dalam mensejahterakan kehidupan. Apabila masih belum ada lowongan pekerjaan, masyarakat bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, lebih bagus jika lapangan pekerjaan buatan sendiri itu bisa menampung orang lain untuk menjadi karyawan kita.
3.      Bantuan pendidikan dan kursus gratis dari pemerintah kepada masyarakat kurang mampu agar dapat melanjutkan sekolahnya tanpa bingung soal biaya. Kursus menjahit, memasak untuk ibu-ibu atau bapak-bapak, serta menyediakan fasilitasnya, seperti mesin jahit dan peralatan memasak agar setelah selesai kursus, para bapak dan ibu tersebut bisa langsung mempraktikkan keahliannya di lingkungan dimana mereka tinggal.

E.      Contoh Kesenjangan Sosial ISD
Pada hari sabtu 21 November 2015 di depan kampus Gunadarma Kalimalang J1 sekitar jam 12.00 wib, saya melihat tiga anak kecil yang sedang memulung. Diperkirakan mereka baru saja pulang sekolah pada umur yang masih kecil mereka harus mencari uang dan meluangkan waktu mereka untuk memulung untuk mendapatkan uang, uang tersebut untuk menambah keperluan keluarganya. Dikarenakan penghasilan orang tuanya tidak dapat mencukupi keperluan sehari-hari, pendidikan yang rendah dan kurangnya keterampilan  memaksa anaknya buat membantu orang tuanya dengan memulung barang bekas.
Seharusnya anak dengan seusia itu mereka focus untuk belajar supaya dapat mewujudkan cita-citanya. Dan dapat memperbaiki kehidupan mereka kelak.
BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Masalah dasar pengentasan kemiskinan bermula dari sikap pemaknaan kita terhadap kemiskinan. Kemiskinan adalah suatu hal yang alami dalam kehidupan. Dalam artian bahwa semakin meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka kebutuhan pun akan semakin banyak. Pengentasan masalah kemiskinan ini bukan hanya kewajiban dari pemerintah, melainkan masyarakat pun harus menyadari bahwa penyakit sosial ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Ketika terjalin kerja sama yang romantis baik dari pemerintah, nonpemerintah dan semua lini masyarakat. Dengan digalakkannya hal ini, tidak perlu sampai 2030 kemiskinan akan mencapai hasil yang seminimal mungkin.
2.      Saran
Dalam menghadapi kemiskinan di zaman global diperlukan usaha-usaha yang lebih kreatif, inovatif, dan eksploratif. Selain itu, globalisasi membuka peluang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat Indonesia yang unggul untuk lebih eksploratif. Di dalam menghadapi zaman globalisasi ke depan mau tidak mau dengan meningkatkan kualitas SDM dalam pengetahuan, wawasan, skill, mentalitas, dan moralitas yang standarnya adalah standar global.














DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar